Ekonomi

Reksa Dana Dolar AS Melonjak di Indonesia, AUM Tembus US$3,16 Miliar Dorong Tren Diversifikasi

Ilustrasi pergerakan dolar AS dan investasi global yang mendorong pertumbuhan reksa dana berbasis valuta asing.

JAKARTA — Tren reksa dana dolar AS di Indonesia mencatat lonjakan signifikan dengan total dana kelolaan (asset under management/AUM) mencapai US$3,16 miliar per Mei 2026. Angka ini naik 96,8% dibandingkan posisi Mei 2025 sebesar US$1,61 miliar, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global.

Data Infovesta juga menunjukkan pertumbuhan bulanan yang kuat, di mana AUM meningkat dari US$2,71 miliar pada April 2026 atau bertambah sekitar 16,6% dalam satu bulan. Selain itu, penguatan dolar AS terhadap rupiah turut mendorong investor meningkatkan eksposur pada instrumen berbasis valuta asing.

Reksa Dana Dolar AS Dorong Diversifikasi Aset Global

Lonjakan dana kelolaan menunjukkan instrumen berbasis dolar masih menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah volatilitas pasar keuangan. Kenaikan ini terutama ditopang oleh reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap dolar yang menawarkan stabilitas imbal hasil.

Reksa dana pasar uang dolar mencatat pertumbuhan paling agresif dengan lonjakan dari US$243,42 juta menjadi US$1,26 miliar dalam satu tahun atau naik 416,5%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dolar meningkat dari US$371,80 juta menjadi US$790,74 juta atau tumbuh 112,7%.

Kategori global fund juga tetap menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan dari US$745,15 juta menjadi US$881,55 juta atau tumbuh 18,3%. Selain itu, reksa dana campuran dolar meningkat 107,4% menjadi US$54,87 juta.

Namun, tidak semua kategori mengalami pertumbuhan. Dana kelolaan reksa dana terproteksi turun 22,7% menjadi US$150,58 juta, sementara reksa dana saham dolar hanya tumbuh 6,9% menjadi US$26,17 juta.

Kinerja Ditopang Saham Global dan Faktor Teknologi

Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan secara tahunan pertumbuhan reksa dana dolar sangat signifikan meski secara year to date masih relatif stagnan. Ia menilai kinerja produk berbasis dolar cukup baik, terutama yang memiliki eksposur ke saham global di Amerika Serikat.

“Rata-rata kinerja satu tahun sangat baik, terutama untuk yang berbasis saham global di Amerika Serikat,” ujarnya.

Menurutnya, tren tersebut sejalan dengan penguatan sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan. Meski demikian, pengalihan portofolio ke reksa dana dolar belum terjadi secara luas karena keterbatasan akses dan tingginya minimum investasi.

Beberapa produk bahkan menetapkan minimum investasi hingga US$10.000 sehingga lebih banyak dijangkau investor menengah atas. Wawan juga mengingatkan pentingnya memperhatikan risiko nilai tukar dalam investasi berbasis dolar.

Prospek dan Strategi Investasi ke Depan

Ke depan, reksa dana pasar uang dolar dinilai tetap menjadi instrumen defensif dengan potensi imbal hasil sekitar 2% hingga 3%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap masih menghadapi tekanan akibat kenaikan suku bunga global, meski berpotensi membaik hingga akhir tahun.

Direktur Investment Simpan Asset Management Armand Marthias menilai pelemahan rupiah jangka panjang menjadi daya tarik utama investasi berbasis dolar. Berdasarkan data historis, rupiah mengalami pelemahan rata-rata sekitar 4% per tahun terhadap dolar AS sejak 2011.

Ia menyebut obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar mampu menghasilkan imbal hasil rata-rata 3% hingga 3,5% dan berpotensi meningkat menjadi 4% hingga 4,5%. Strategi yang digunakan adalah alokasi seimbang antara obligasi pemerintah dan korporasi.

Di sisi lain, Investment Analyst Succor Asset Management Lolita menilai pelemahan rupiah belum sepenuhnya mendorong lonjakan dana masuk ke seluruh produk reksa dana dolar. Investor masih mempertimbangkan berbagai risiko global sebelum meningkatkan eksposur.

Menurutnya, strategi investasi bertahap atau dollar cost averaging menjadi pendekatan yang relevan di tengah kondisi pasar saat ini. Selain itu, faktor seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve, geopolitik, hingga kondisi ekonomi global akan menjadi penentu utama kinerja ke depan.

Dengan berbagai faktor tersebut, industri reksa dana dolar masih memiliki ruang pertumbuhan. Namun, pelaku industri menekankan bahwa instrumen ini lebih tepat sebagai strategi diversifikasi jangka panjang sesuai profil risiko investor.(*)

Fitra Mulia

Recent Posts

BRI Pariaman Perkuat Sinergi dengan Nagari Batu Kalang, Dorong Desa BRILiaN Makin Inovatif dan Mandiri

SWARNASUMBAR.COM – BRI Cabang Pariaman memperkuat sinergi dengan Pemerintah Nagari Batu Kalang, Kabupaten Padang Pariaman,…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

BRI Lubuk Sikaping Perkuat Sinergi dengan Pemkab Pasaman, Siap Dukung UMKM dan Perluas Akses Keuangan

SWARNASUMBAR.COM – Pimpinan BRI Cabang Lubuk Sikaping, Fahmy Tias Karviga, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

BRI Lubuk Sikaping Perkuat Sinergi dengan PDAM Pasaman, Fahmy Tias Karviga Dorong Kolaborasi Layanan Publik

SWARNASUMBAR.COM – Pimpinan BRI Cabang Lubuk Sikaping, Fahmy Tias Karviga, melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

Argentina vs Spanyol di Final Piala Dunia 2026: Messi Selangkah Ukir Sejarah, La Albiceleste Kejar Gelar Keempat

SWARNASUMBAR.COM – Final FIFA World Cup 2026 akan menghadirkan duel dua raksasa sepak bola dunia.…

Kamis, 16 Juli 2026 ago

BRI Painan Jemput Masukan Nasabah, Helmi Shauman dan Area Head Perkuat Layanan Perbankan

SWARNASUMBAR.COM– BRI Cabang Painan terus memperkuat kedekatan dengan nasabah melalui kunjungan langsung sebagai bagian dari…

Kamis, 16 Juli 2026 ago

Argentina Tak Terkalahkan di Semifinal Piala Dunia, Inggris Ditantang Akhiri Rekor La Albiceleste

Pelatih Timnas Argentina Lionel Scaloni (kiri) dan pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel (kanan) akan saling…

Rabu, 15 Juli 2026 ago