Humaniora

Pelatihan Guru Pendidikan Demokrasi Jakarta Diikuti 30 Guru SMA, PIER Paramadina dan KAS Perkuat Nilai Demokratis

Sejumlah guru SMA Negeri di DKI Jakarta mengikuti Pelatihan Guru untuk Pendidikan Demokrasi yang digelar PIER Universitas Paramadina dan KAS di Hotel Santika Premier Slipi, Jakarta, 4–6 Mei 2026.

JAKARTAPelatihan Guru Pendidikan Demokrasi Jakarta yang digelar Paramadina Institute for Education Reform (PIER) Universitas Paramadina bersama Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Jerman diikuti 30 guru dari berbagai SMA Negeri di DKI Jakarta. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 4–6 Mei 2026, di Hotel Santika Premier Slipi.

Program bertajuk “Pelatihan Guru untuk Pendidikan Demokrasi” ini menyasar para pendidik tingkat Sekolah Menengah Atas. Selain itu, peserta berasal dari sejumlah sekolah, antara lain SMAN 8 Jakarta, SMAN 68 Jakarta, SMAN 112 Jakarta, serta beberapa SMA Negeri lainnya di Provinsi DKI Jakarta.

Selama pelatihan, seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara penuh dan menginap di lokasi acara. Pola ini diterapkan untuk memperkuat efektivitas pembelajaran sekaligus membangun jejaring antarguru.

Pelatihan Guru Pendidikan Demokrasi Jakarta Dibuka Dinas Pendidikan DKI

Kegiatan dibuka pada Senin, 4 Mei 2026, melalui sambutan Direktur PIER, Djayadi Hanan, dan perwakilan KAS untuk Indonesia dan Timor Leste, Cynthia Tri Putri. Sementara itu, Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto, hadir mewakili Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan membuka pelatihan secara resmi.

Dalam sambutannya, Juwarto mengapresiasi inisiatif PIER Universitas Paramadina dalam memperkuat pendidikan demokrasi di sekolah. Ia menilai guru humaniora memegang peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya arus informasi digital.

“Melalui gadget semua ilmu telah berada di tangan siswa, tetapi bagaimana mereka tetap menjadi manusia yang utuh sepenuhnya ada di tangan para guru. Guru ilmu humaniora memiliki tanggung jawab agar siswa memahami tujuan hidup dan makna hidup,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan posisi guru sebagai aktor penting dalam proses pendidikan nilai. Kemudian, pelatihan ini memberi ruang bagi guru untuk memperdalam konsep demokrasi sekaligus merancang penerapannya di ruang kelas.

Peserta Mendalami Demokrasi Pancasila dan Praktik di Sekolah

Pelatihan menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi pendidikan sebagai pembicara utama. Mereka yaitu Djayadi Hanan, Ph.D, Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum, Umar Abdullah, Ph.D, M. Hilal Tri Anwari, Achmad Firas Khudi, SE., ME., MA, serta Danang Binuko, SE, M.AP dari Kementerian Dalam Negeri.

Sepanjang kegiatan, peserta memperoleh penguatan materi mengenai Demokrasi Pancasila dan paradigma demokrasi. Materi tersebut mencakup kebebasan, persamaan, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Selain itu, para guru mendalami prinsip-prinsip demokrasi seperti kedaulatan rakyat, musyawarah, aturan main, dan mekanisme kontrol dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembahasan ini diarahkan agar guru mampu menghubungkan konsep demokrasi dengan pengalaman siswa di sekolah.

Peserta juga diajak mendiskusikan berbagai studi kasus terkait praktik demokrasi di lingkungan masyarakat maupun sekolah masing-masing. Namun, pelatihan tidak hanya berhenti pada isu nasional, karena peserta juga membahas Global Issues in Democracy untuk memperluas perspektif tentang tantangan demokrasi di tingkat nasional dan internasional.

Guru Susun Rencana Aksi untuk Sekolah Masing-Masing

Dalam aspek pembelajaran, para guru mendapat pembekalan metode pembelajaran partisipatif. Pendekatan ini menekankan andragogi, pedagogi, pengelolaan dinamika kelompok, serta pembelajaran berbasis pengalaman berstruktur.

Selanjutnya, metode tersebut mendorong proses belajar yang lebih dialogis, kritis, dan partisipatif di ruang kelas. Dengan demikian, nilai demokrasi tidak hanya hadir sebagai materi, tetapi juga menjadi bagian dari cara guru mengelola pembelajaran.

Pada hari terakhir, peserta menyusun strategi integrasi nilai-nilai demokrasi ke dalam mata pelajaran yang mereka ampu. Selain itu, para guru mendapat pembekalan mengenai pemanfaatan internet sebagai sumber dan media pembelajaran.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyusunan Action Plan atau rencana aksi yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Rencana ini menjadi tindak lanjut pelatihan agar penguatan nilai demokrasi dapat masuk ke praktik pembelajaran sehari-hari.

Program ini menjadi bagian dari komitmen PIER Universitas Paramadina dan KAS dalam memperkuat pendidikan demokrasi di Indonesia. Fokusnya berada pada peningkatan kapasitas guru sebagai agen pembentuk karakter, nilai kebangsaan, dan budaya demokratis di lingkungan pendidikan.(*)

FM ST SATI

Recent Posts

Koperasi Merah Putih Sumbar Tembus 4 Besar Nasional, Mahyeldi Apresiasi Kinerja Pendamping

Gubernur Sumbar Mahyeldi menyerahkan penghargaan kepada PMO dan Business Assistant berprestasi di Padang, Sabtu (6/6/2026).…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Distribusi Air Bersih Padang Capai 20 Juta Liter, BPBD-Damkar Masih Layani Warga Pascabanjir

Petugas BPBD dan Damkar Padang saat mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak bencana banjir bandang,…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Pemulung Tercebur ke Banda Bakali Padang, Damkar Evakuasi Korban Selamat dalam 80 Menit

SWARNASUMBAR.COM — Seorang pemulung bernama Hendri (47) terjatuh ke Banda Bakali di kawasan GOR Haji…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Universitas Paramadina Apresiasi LLDIKTI Wilayah III dalam Memperjuangkan Eksistensi Perguruan Tinggi Swasta

JAKARTA — Penurunan mahasiswa PTS Jakarta menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR…

Sabtu, 06 Juni 2026 ago

Forki Sumbar Resmi Dilantik, Bidik 3 Medali Emas di PON

Pelantikan pengurus Forki Sumbar periode 2025–2029 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Sabtu (6/6) PADANG — Forki…

Sabtu, 06 Juni 2026 ago

KAI Divre II Sumbar Sambut Meriah 250 Delegasi 36 Negara di BIM untuk IMLF 2026

SWARNASUMBAR.COM — KAI Divre II Sumbar menyambut sekitar 250 delegasi dari 36 negara di Stasiun…

Jumat, 05 Juni 2026 ago