Jakarta — Tokoh pendidikan dan akademisi, Anies Baswedan, mengajak pelajar menjadi Generasi Emas Kuasai AI tanpa kehilangan integritas, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis. Pesan itu ia sampaikan dalam acara “Integritas Karakter, Kompetensi, & Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia” di Universitas Paramadina Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2026).
Forum tersebut menghadirkan pelajar, guru, orang tua, dan civitas akademika untuk membahas tantangan pendidikan di era transformasi digital. Selain itu, kegiatan ini dimoderatori Abdul Qodir Jaelani, M.Sc.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza, menegaskan komitmen kampus membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar aspek akademik. Kampus juga menaruh perhatian pada pembentukan karakter dan integritas mahasiswa.
Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, menyebut forum ini menjadi ruang interaksi antara generasi muda, sivitas akademika, dan tokoh nasional. Melalui dialog seperti ini, Paramadina berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas dan relevan dengan dinamika global.
Dalam paparannya, Anies menegaskan masa kuliah menjadi fase terakhir pendidikan formal yang memiliki “ujung”. Setelah itu, seseorang masuk ke fase kehidupan yang terus berjalan tanpa batas.
“Persiapan untuk masuk kuliah itu bukan sekadar milih kampusnya, tapi pertanyaannya bekal apa yang akan anda dapat di fase yang punya ujung terakhir, karena itu yang akan memberikan bekal untuk perjalanan anda di fase berikutnya yang tanpa ujung,” ujar Anies.
Kemudian, Anies menekankan pentingnya memilih kampus yang mampu mengembangkan dua jalur sekaligus. Jalur pertama mencakup kompetensi akademik, sedangkan jalur kedua mencakup kepemimpinan dan kewirausahaan.
“Saya akan selalu sampaikan buat adik-adik yang nanti kuliah, carilah tempat dimana Anda bisa mengembangkan dua track bersamaan. Satu track kompetensi akademik, track kompetensi bidang Anda. Yang kedua track pengembangan kepemimpinan dan kewirausahaan,” katanya.
Menurut Anies, kewirausahaan tidak hanya berarti kemampuan bisnis. Ia memaknai kewirausahaan sebagai entrepreneurial skill yang membuat seseorang mampu beradaptasi dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Anies juga mengingatkan pelajar agar memanfaatkan artificial intelligence sebagai pendamping. Namun, ia menegaskan teknologi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“Artificial intelligence itu bisa membuat kecerdasan anda berlipat kali karena punya asisten. Tapi itu asisten, jangan jadi substitute, jadi pendamping,” ujarnya.
Selanjutnya, Anies menjelaskan kepemimpinan sejati lahir dari kepercayaan. Ia memperkenalkan konsep kepercayaan yang dibentuk oleh kompetensi, integritas, dan kedekatan, serta berkurang ketika kepentingan pribadi terlalu besar.
“Trust itu sama dengan competence plus integrity plus intimacy dikurangi self-interest,” jelasnya.
Namun, Anies mengingatkan bahwa integritas tidak cukup dimaknai sebagai kejujuran. Menurutnya, integritas harus berjalan bersama nilai kebenaran dan kepentingan publik.
“Kalau jujur aja, kepala preman di terminal itu jujur. Tapi dia bertentangan dengan nilai kebaikan dan kepentingan publik,” katanya.
Dalam dialog interaktif, Anies menjawab pertanyaan siswa tentang pentingnya critical thinking di tengah budaya yang kerap menganggap pertanyaan sebagai sikap “bawel”. Ia menilai keberanian bertanya menjadi ciri utama anak muda.
“Kalau anak muda udah gak berani bertanya, dia udah kehilangan kemudaannya,” kata Anies.
Ia mendorong pelajar melihat persoalan dari sudut pandang baru. Menurutnya, inovasi muncul ketika seseorang menemukan solusi baru atas persoalan lama.
“Inovasi itu solusi baru atas persoalan lama,” ujarnya.
Kepada para guru, Anies menegaskan kehadiran AI justru membuat pendidikan karakter semakin penting. Teknologi, menurutnya, tidak mampu menggantikan guru yang membawa nilai, etika, inspirasi, dan hati.
“Guru dengan nilai, dengan etik, dengan inspirasi, dengan hati, bisa nggak diganti teknologi? Nggak bisa,” tegasnya.
Hingga akhir sesi, Anies menekankan kuliah bukan sekadar persiapan kerja. Ia menyebut kuliah sebagai proses pengembangan potensi diri agar generasi muda mampu berkarya di berbagai bidang, termasuk bidang yang mungkin belum ada hari ini.
“Kuliah itu bukan persiapan kerja. Kuliah itu adalah pengembangan potensi diri,” pungkasnya.(*)
SWARNASUMBAR.COM - Pemerintah Kota Pariaman menargetkan capaian Universal Health Coverage (UHC) sebesar 100 persen pada…
PADANG, SWARNASUMBAR.COM - Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu…
PADANG,SWARNASUMBAR.COM – Penyidik Subdirektorat III Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda…
SWARNASUMBAR.COM — BRI Branch Office Sungai Penuh melakukan kunjungan silaturahmi ke Kejaksaan Negeri Sungai Penuh…
SWARNASUMBAR.COM — BRI Branch Office Sungai Penuh melakukan kunjungan resmi ke Polres Sungai Penuh pada…
SWARNASUMBAR.COM— BRI Branch Office Padangpanjang menyerahkan secara simbolis Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Ketahanan…