Humaniora

Transformasi Pendidikan Era AI di Jakarta, Universitas Paramadina dan Komisi X DPR RI Dorong Inovasi Nasional

JAKARTA – Universitas Paramadina bersama Komisi X DPR RI menggelar seminar nasional bertajuk “Transformasi Dunia Pendidikan di Era AI: Peluang, Tantangan dan Inovasi Masa Depan” di Auditorium Firmanzah, Kampus Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (18/7/2026). Seminar yang diikuti 80 peserta yang terdiri atas guru, dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, dan siswa SMA ini membahas strategi menghadapi disrupsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.

Universitas Paramadina memandang perkembangan AI sebagai momentum untuk menyelaraskan penguasaan teknologi dengan penguatan integritas akhlak mahasiswa. Pendekatan tersebut sejalan dengan pilar universitas yang menekankan nilai Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., yang hadir sebagai pembicara kunci, menegaskan negara harus memastikan pemanfaatan AI tidak memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Negara harus memastikan bahwa penetrasi teknologi AI di sektor pendidikan tidak menciptakan jurang pemisah baru di Indonesia. Fungsi pengawasan dan penganggaran DPR RI Komisi X akan terus kami optimalkan demi menjamin pemerataan fasilitas digital dan peningkatan kompetensi guru dari Sabang sampai Merauke, sehingga akselerasi inovasi masa depan ini dapat dirasakan tepat sasaran oleh seluruh anak bangsa.”

Transformasi Pendidikan Era AI Butuh Kurikulum Adaptif

Selain kebijakan nasional, pembaruan kurikulum di perguruan tinggi menjadi perhatian dalam seminar tersebut. Wakil Rektor Universitas Paramadina Bidang Akademik, Dr. Harry T.Y. Achsan, mengajak perguruan tinggi memperbarui metode pembelajaran agar lulusan mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.

Sementara itu, dosen Teknik Informatika Universitas Paramadina, M. Darwis, M.Kom., menjelaskan AI merupakan teknologi pengolah data dengan kemampuan besar, namun penggunaannya tetap membutuhkan batasan etika yang ditentukan manusia.

“Artificial intelligence adalah alat yang luar biasa kuat, namun ia tidak memiliki nurani. Di ruang-ruang kelas digital masa depan, kemampuan critical thinking dan pemecahan masalah secara etis jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal timbunan informasi. Kita harus melatih mahasiswa untuk menguasai AI secara teknis, sekaligus memiliki pola pikir adaptif yang berakar pada nilai humanitas.”

Darwis menambahkan orientasi pembelajaran perlu bergeser dari sekadar penyampaian materi hafalan menuju pengembangan kemampuan bernalar tingkat tinggi serta penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

Seminar Soroti Dampak AI terhadap Dunia Kerja dan Pendidikan Menengah

Dari perspektif ekonomi, Wakil Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Dr. Handi Rizsa, M.Ec., menilai otomatisasi berbasis AI berpotensi mengubah struktur lapangan pekerjaan. Karena itu, ia mendorong rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi agar selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

“Pergeseran ekonomi dunia berbasis AI menuntut transformasi total pada kurikulum perguruan tinggi. Jika kita tidak menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri masa depan yang dinamis, maka risiko pengangguran intelektual akan meningkat. Pendidikan harus diarahkan pada fleksibilitas keahlian dan penguatan integritas berbasis nilai kemodernan serta kebangsaan.”

Pandangan serupa datang dari Kepala SMAN 7 Bekasi, Drs. Fajar Heryadi Trimawardi, M.Pd. Menurutnya, siswa di tingkat sekolah menengah memerlukan pendampingan agar mampu memanfaatkan AI secara bijaksana.

“Sebagai praktisi di tingkat pendidikan menengah, kami melihat AI sebagai peluang besar sekaligus tantangan moral. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu, melainkan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa memanfaatkan teknologi secara bijak. Kolaborasi seperti seminar ini memberikan panduan strategis bagi sekolah dalam mendesain inovasi pembelajaran sejak dini.”

Penanggung jawab acara yang juga Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, S.IP., M.A., menyampaikan seminar nasional tersebut berhasil menghimpun aspirasi dari praktisi dan akademisi. Aspirasi itu akan dirangkum menjadi draf rekomendasi kebijakan strategis.(*)

Fitra Mulia

Recent Posts

Bank Nagari–Padang Eye Center Perkuat Kolaborasi Rp140 Miliar, Dorong Layanan Kesehatan Sumatera Barat

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyaksikan penandatanganan MoU antara PT Bank Nagari dan PT Muda…

Jumat, 24 Juli 2026 ago

Pertamina Turunkan Harga Bright Gas di Regional Sumbagut, Berlaku Mulai 14 Juli 2026

MEDAN – Harga Bright Gas Regional Sumbagut mengalami penyesuaian efektif mulai 14 Juli 2026. Pertamina…

Selasa, 21 Juli 2026 ago

BRI Pariaman Perkuat Sinergi dengan Nagari Batu Kalang, Dorong Desa BRILiaN Makin Inovatif dan Mandiri

SWARNASUMBAR.COM – BRI Cabang Pariaman memperkuat sinergi dengan Pemerintah Nagari Batu Kalang, Kabupaten Padang Pariaman,…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

BRI Lubuk Sikaping Perkuat Sinergi dengan Pemkab Pasaman, Siap Dukung UMKM dan Perluas Akses Keuangan

SWARNASUMBAR.COM – Pimpinan BRI Cabang Lubuk Sikaping, Fahmy Tias Karviga, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

BRI Lubuk Sikaping Perkuat Sinergi dengan PDAM Pasaman, Fahmy Tias Karviga Dorong Kolaborasi Layanan Publik

SWARNASUMBAR.COM – Pimpinan BRI Cabang Lubuk Sikaping, Fahmy Tias Karviga, melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor…

Jumat, 17 Juli 2026 ago

Argentina vs Spanyol di Final Piala Dunia 2026: Messi Selangkah Ukir Sejarah, La Albiceleste Kejar Gelar Keempat

SWARNASUMBAR.COM – Final FIFA World Cup 2026 akan menghadirkan duel dua raksasa sepak bola dunia.…

Kamis, 16 Juli 2026 ago