Deretan kendaraan listrik bekas dipajang di showroom Ever, San Francisco, saat minat konsumen meningkat akibat kenaikan harga bensin.
SWARNASUMBAR.COM–Kenaikan harga minyak global setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mendorong perubahan perilaku konsumen, khususnya dalam penggunaan energi dan kendaraan. Beberapa minggu sebelumnya, pasar kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat terlihat melemah akibat penurunan penjualan dan diskon besar dari dealer.
Namun demikian, kondisi tersebut berubah cepat ketika harga bensin melonjak signifikan. Di San Francisco, harga bensin mencapai 6,81 dolar per galon pada Rabu, sehingga memicu peningkatan minat terhadap kendaraan listrik, terutama unit bekas dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, showroom mobil listrik bekas Ever mencatat lonjakan kunjungan pelanggan. Banyak pengemudi menjadwalkan kunjungan untuk melihat unit EV dengan harga di bawah 30.000 dolar yang masih dalam kondisi baik.
Maximilian Quertermous, salah satu pendiri dan kepala operasional Ever, menegaskan bahwa kenaikan harga bensin menjadi faktor utama dalam keputusan konsumen. Ia menyebutkan bahwa topik harga bahan bakar muncul dalam hampir setiap percakapan dengan pelanggan, sementara momentum dalam beberapa minggu terakhir menjadi yang terkuat yang pernah mereka alami.
Di sisi lain, fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Berbagai negara mulai menunjukkan tanda-tanda pergeseran menuju energi alternatif seiring meningkatnya tekanan harga energi fosil.
Di Asia Tenggara, konsumen mulai berbondong-bondong mendatangi toko kendaraan listrik milik BYD Co., salah satu produsen EV terbesar asal Tiongkok. Sementara itu, di Pakistan, becak listrik dilaporkan habis terjual karena tingginya permintaan.
Selain sektor transportasi, perubahan juga terjadi pada kebutuhan rumah tangga. Di India, kelangkaan minyak goreng mendorong peningkatan permintaan kompor listrik sebagai alternatif penggunaan energi.
Kemudian, tren serupa terlihat di berbagai negara lain. Dari Jerman hingga Nigeria, minat terhadap panel surya atap rumah meningkat tajam. Bahkan di Inggris, sejumlah pemilik rumah mulai beralih ke pompa panas meskipun biaya awalnya relatif tinggi.
Berdasarkan Tinjauan Statistik Energi Dunia EI, kondisi ini menunjukkan bahwa krisis minyak berperan sebagai katalis percepatan transisi energi. Konsumen mulai mempertimbangkan opsi yang lebih efisien dan tidak bergantung pada bahan bakar fosil
Perubahan ini menunjukkan keterkaitan langsung antara harga energi dan keputusan konsumsi. Ketika harga bahan bakar meningkat, konsumen cenderung mencari alternatif yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Selain itu, lonjakan harga bensin secara langsung meningkatkan daya tarik kendaraan listrik, terutama di segmen harga menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap EV bekas yang lebih terjangkau dibandingkan kendaraan baru.
Sementara itu, sektor energi rumah tangga juga mengalami penyesuaian. Konsumen mulai beralih ke teknologi listrik seperti kompor listrik, panel surya, dan pompa panas untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak.
Dengan demikian, krisis energi global tidak hanya berdampak pada harga, tetapi juga mempercepat perubahan pola konsumsi di berbagai sektor. Pergeseran ini terjadi secara simultan di berbagai negara dengan tingkat adopsi yang berbeda.(sumber Bloomberg)
Kondisi lubang jalan nasional di Lubuk Cubadak, Pesisir Selatan, yang dibiarkan terbuka lebih dari 10…
Gubernur Sumbar Mahyeldi saat membuka TMMD ke-128 di Nagari Batu Gadang, Padang Pariaman. PADANG PARIAMAN…
PADANG — Sebanyak 312 mahasiswa Universitas Ekasakti (UNES) turun langsung ke masyarakat sebagai tim verifikasi…
SWARNASUMBAR.COM — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan kesiapan penuh mendukung KKDN Sesko TNI Sumbar yang…
PADANG — Pelantikan pejabat administrator Sumbar berlangsung di Auditorium Gubernuran, Rabu (22/4/2026), saat Sekretaris Daerah…
Pelantikan pengurus KONI Kota Solok masa bakti 2026–2030 di Gedung Kubuang 13, Rabu (22/4/2026). SOLOK…