Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61% Triwulan I-2026, Jakarta: Ariyo Soroti Tekanan Fiskal dan Kualitas Pertumbuhan

SWARNASUMBAR.COMPertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% Triwulan I-2026 mendapat sorotan dari kalangan akademisi di Jakarta. Pengajar Universitas Paramadina, Dr. Ariyo DP Irhamna, menilai angka tersebut perlu dibaca hati-hati karena ditopang stimulus fiskal jangka pendek dan tekanan struktural yang meningkat.

Ariyo menyampaikan bahwa pertumbuhan 5,61 persen pada Triwulan I-2026 tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi. Ia menekankan bahwa kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan menjadi isu utama di tengah berbagai indikator yang menunjukkan tekanan.

Selain itu, ia menanggapi kritik dari INDEF, LPEM FEB UI, dan CELIOS dengan menilai bahwa perdebatan tidak cukup berhenti pada metodologi statistik. Menurutnya, fokus perlu bergeser pada struktur pertumbuhan itu sendiri.

Inventori dan Konsumsi Jadi Sorotan

Ariyo menyoroti perbandingan perubahan inventori yang dinilai kurang tepat dalam analisis sebelumnya. Ia menjelaskan lonjakan inventori dari Rp4,2 triliun menjadi Rp104 triliun terjadi secara kuartalan, bukan tahunan.

Secara tahunan, inventori hanya meningkat dari Rp85,2 triliun pada Triwulan I-2025 menjadi Rp104 triliun pada Triwulan I-2026 atau sekitar 22 persen. Ia menilai kenaikan ini belum tentu mencerminkan pelemahan permintaan domestik.

Menurutnya, kenaikan inventori bisa dipicu oleh persiapan stok menjelang Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, ekspektasi konsumsi dan impor antisipatif juga memengaruhi angka tersebut.

Sementara itu, ia menilai kontraksi sektor listrik dan gas sebesar 0,99 persen tidak bertentangan dengan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,04 persen. Data penjualan listrik industri justru menunjukkan ekspansi.

“Kontradiksi yang dianggap janggal hanyalah sisa kebijakan harga 2025, bukan inkonsistensi data BPS,” tulis Ariyo.

Aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan Jakarta mencerminkan dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026.

Peran Besar Belanja Pemerintah

Ariyo menilai pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 secara mendasar lebih lemah dari angka headline. Ia mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen dan menyumbang sekitar 1,26 poin persentase terhadap pertumbuhan.

Ia memperkirakan tanpa dorongan tersebut, pertumbuhan hanya berada di kisaran 4,4 hingga 4,6 persen. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang cukup besar pada belanja negara.

“Membaca 5,61% sebagai sinyal momentum menguat keliru; momentumnya sebetulnya melambat,” tulisnya.

Selain itu, Ariyo menyoroti perbedaan antara pertumbuhan PDB manufaktur dan indikator PMI manufaktur. PMI berada di level 49,1 pada April 2026 yang masuk zona kontraksi.

Ia menilai indikator ini justru memperkuat pertanyaan mengenai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Tekanan Fiskal dan Nilai Tukar

Dalam analisisnya, Ariyo menekankan bahwa biaya menjaga pertumbuhan semakin besar. Ia mencatat keseimbangan primer APBN berubah dari surplus Rp21,9 triliun menjadi defisit Rp95,8 triliun.

Pada saat yang sama, pembayaran bunga utang meningkat 18,6 persen menjadi sekitar Rp144,3 triliun. Kondisi ini menunjukkan tekanan fiskal yang meningkat.

Selain itu, ia menyoroti lonjakan subsidi energi, pelemahan rupiah hingga Rp17.605 per dolar AS, serta penurunan cadangan devisa selama tiga bulan berturut-turut.

Menurutnya, depresiasi rupiah menggerus pendapatan masyarakat dalam ukuran dolar AS. Hal ini juga menjauhkan target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi.

“Setiap pelemahan 1% mengurangi PDB per kapita USD sekitar USD52,” tulisnya.

Struktur Ekspor dan Sektor Domestik

Ariyo menilai struktur ekspor Indonesia masih bergantung pada komoditas alam dan hilirisasi nikel. Di sisi lain, surplus perdagangan menyusut ketika rupiah melemah.

Ia menyebut kondisi ini menunjukkan lemahnya daya saing ekspor manufaktur nonkomoditas.

Dalam sektor domestik, ia mencatat rasio kredit bermasalah properti meningkat dari 3,08 persen menjadi 3,24 persen pada Februari 2026. Pertumbuhan sektor real estat juga hanya mencapai 3,54 persen.

“Sektor properti adalah barometer kelas menengah, dan barometer ini sedang tertekan,” tulisnya.

Sebagai solusi, Ariyo mendorong percepatan belanja modal produktif dan reformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Ia menilai langkah tersebut lebih berkelanjutan dibanding stimulus jangka pendek.

“Pertanyaan yang sedang diabaikan: pertumbuhan yang berkualitas atau berkuantitas,” tutupnya.(*)

FM ST SATI

Recent Posts

Koperasi Merah Putih Sumbar Tembus 4 Besar Nasional, Mahyeldi Apresiasi Kinerja Pendamping

Gubernur Sumbar Mahyeldi menyerahkan penghargaan kepada PMO dan Business Assistant berprestasi di Padang, Sabtu (6/6/2026).…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Distribusi Air Bersih Padang Capai 20 Juta Liter, BPBD-Damkar Masih Layani Warga Pascabanjir

Petugas BPBD dan Damkar Padang saat mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak bencana banjir bandang,…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Pemulung Tercebur ke Banda Bakali Padang, Damkar Evakuasi Korban Selamat dalam 80 Menit

SWARNASUMBAR.COM — Seorang pemulung bernama Hendri (47) terjatuh ke Banda Bakali di kawasan GOR Haji…

Minggu, 07 Juni 2026 ago

Universitas Paramadina Apresiasi LLDIKTI Wilayah III dalam Memperjuangkan Eksistensi Perguruan Tinggi Swasta

JAKARTA — Penurunan mahasiswa PTS Jakarta menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR…

Sabtu, 06 Juni 2026 ago

Forki Sumbar Resmi Dilantik, Bidik 3 Medali Emas di PON

Pelantikan pengurus Forki Sumbar periode 2025–2029 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Sabtu (6/6) PADANG — Forki…

Sabtu, 06 Juni 2026 ago

KAI Divre II Sumbar Sambut Meriah 250 Delegasi 36 Negara di BIM untuk IMLF 2026

SWARNASUMBAR.COM — KAI Divre II Sumbar menyambut sekitar 250 delegasi dari 36 negara di Stasiun…

Jumat, 05 Juni 2026 ago