Beranda / Teknologi / Sejarah Rekam Medis dari Zaman Kuno hingga Era Digital di Indonesia

Sejarah Rekam Medis dari Zaman Kuno hingga Era Digital di Indonesia

Ilustrasi transformasi rekam medis dari catatan kertas hingga sistem elektronik (EHR) di rumah sakit modern Indonesia.

SWARNASUMBAR –Rekam medis menjadi fondasi penting dalam pelayanan kesehatan modern karena memuat riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, tindakan medis, hingga rencana perawatan pasien secara terstruktur. Dokumen ini tidak hanya berfungsi sebagai arsip administratif, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang akurat dan berkelanjutan.

Seiring perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi, sistem pencatatan medis mengalami transformasi panjang dari catatan sederhana hingga berbasis elektronik. Berikut rangkuman sejarah rekam medis dunia hingga perkembangannya di Indonesia.

Jejak Awal Rekam Medis hingga Standarisasi Modern

Sejarah rekam medis dapat ditelusuri ke Mesir Kuno sekitar 1600 SM melalui Edwin Smith Papyrus yang mencatat metode pengobatan dan pembedahan. Di Yunani Kuno, Hippocrates mendorong pencatatan gejala pasien secara sistematis untuk memahami penyakit secara lebih mendalam dan terstruktur.

Edwin Smith Papyrus: Jejak Awal Rekam Medis dari Mesir Kuno Sekitar 1600 SM

Pada masa itu, pencatatan masih bersifat pribadi dan terbatas pada tabib tertentu. Penggunaan rekam medis secara sistematis baru berkembang pada abad ke-19, ketika rumah sakit modern mulai tumbuh dan revolusi industri mendorong perubahan manajemen layanan kesehatan, termasuk pengelolaan data pasien.

Florence Nightingale turut memperkenalkan pentingnya dokumentasi pasien untuk meningkatkan mutu layanan. Standarisasi semakin kuat pada abad ke-20 setelah berdirinya American College of Surgeons (ACS) tahun 1913 yang mempromosikan penggunaan rekam medis terstandar guna memastikan akurasi dan konsistensi data pasien di rumah sakit.

Lahirnya Rekam Medis Elektronik (EHR)

Perkembangan teknologi komputer pada 1960-an menjadi titik awal lahirnya Electronic Health Record (EHR). Rumah sakit besar di Amerika Serikat mulai memanfaatkan komputer untuk pengelolaan data, termasuk Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, yang menjadi salah satu pelopor penerapan EHR.

Pada tahap awal, penggunaan EHR terbatas karena biaya tinggi dan kompleksitas pengelolaan sistem, sehingga hanya institusi besar yang mampu mengadopsinya. Sepanjang 1970-an, fungsi sistem masih berfokus pada penjadwalan dan penagihan, sebelum akhirnya berkembang menjadi sistem pencatatan klinis yang lebih komprehensif pada 1980-an.

Pada periode yang sama, pendekatan problem-oriented medical record (POMR) memperkenalkan pencatatan berbasis masalah yang lebih terstruktur dan mendetail, menjadi fondasi penting bagi pengembangan EHR modern yang mendukung pengambilan keputusan medis lebih cepat dan terintegrasi.

Perkembangan Rekam Medis di Indonesia

Di Indonesia, rekam medis telah dikenal sejak masa kolonial Belanda melalui rumah sakit pemerintah seperti RS Cipto Mangunkusumo yang saat itu masih menggunakan sistem manual. Setelah kemerdekaan, perkembangan berlanjut dengan berdirinya Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia (PORMIKI) pada 1989 untuk memperkuat standar dan kompetensi profesi.

Transformasi digital mulai terlihat pada awal 2000-an ketika Kementerian Kesehatan mendorong penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Hingga 2022, sekitar 60% rumah sakit di Indonesia telah mengadopsi SIMRS secara penuh menurut data Kementerian Kesehatan.

Ke depan, adopsi teknologi seperti AI, big data, dan blockchain disebut dapat mendukung pengelolaan data pasien yang lebih aman dan efisien. Kolaborasi pemerintah, rumah sakit, dan perusahaan IT consultant seperti BitHealth juga disebut berperan dalam percepatan transformasi digital sektor kesehatan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *