SWARNASUMBAR–Pesatnya perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi orang tua dalam mendidik anak di era digital. Gadget, media sosial, dan akses internet yang luas dapat menjadi sarana belajar efektif, tetapi juga berisiko memicu kecanduan serta paparan konten yang tidak sesuai usia.
Panduan ini memuat strategi praktis dan terukur untuk membantu orang tua membimbing anak menghadapi dunia digital secara sehat dan seimbang. Pendekatan yang tepat diperlukan agar anak tetap berkembang optimal tanpa tekanan berlebihan di tengah arus informasi yang semakin cepat dan kompleks.
Langkah pertama yang disarankan adalah menetapkan aturan screen time yang jelas dan konsisten sesuai usia anak. Untuk anak prasekolah, durasi satu jam per hari dinilai cukup, sementara anak usia sekolah dapat diberikan waktu lebih fleksibel dengan pengawasan yang terarah.
Kesepakatan keluarga mengenai waktu dan tempat penggunaan gadget, seperti tidak digunakan saat makan atau sebelum tidur, menjadi bagian penting dalam membangun disiplin. Konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan ini disebut sebagai kunci agar anak memahami batasan dengan baik dan tidak merasa dibatasi secara sepihak.
Seleksi Konten dan Komunikasi Terbuka Jadi Kunci
Tidak semua konten digital berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Berbagai platform menyediakan video edukatif, aplikasi belajar interaktif, serta permainan berbasis logika yang dapat membantu perkembangan kognitif jika dipilih secara tepat dan sesuai usia.
Orang tua dianjurkan aktif menyeleksi aplikasi dan kanal yang digunakan anak, serta memanfaatkan fitur parental control guna membatasi akses terhadap konten yang tidak sesuai. Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan anak tetap memperoleh manfaat tanpa terpapar risiko yang tidak diinginkan.
Selain pengawasan teknis, komunikasi terbuka menjadi strategi penting dalam pengasuhan digital. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai tontonan atau permainan yang diakses, sekaligus menjelaskan risiko seperti cyberbullying, penipuan online, dan bahaya membagikan informasi pribadi.
Komunikasi yang terjalin secara terbuka membuat anak merasa dipercaya dan lebih mudah meminta bantuan ketika menghadapi masalah di dunia maya. Pendekatan dialogis ini juga membantu membangun kesadaran anak tentang tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Teladan Orang Tua dan Literasi Digital Sejak Dini
Perilaku orang tua dalam menggunakan gadget berpengaruh langsung terhadap kebiasaan anak. Jika orang tua terlalu sering menggunakan ponsel saat bersama keluarga, anak cenderung meniru pola tersebut dalam keseharian mereka.
Karena itu, disarankan menyediakan waktu khusus tanpa gadget, seperti family time di akhir pekan, membaca buku bersama, atau melakukan aktivitas luar ruangan. Upaya ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara interaksi digital dan hubungan sosial secara langsung.
Dorongan terhadap aktivitas non-digital seperti olahraga, menggambar, memasak sederhana, atau berkebun juga disebut dapat mengurangi ketergantungan pada layar. Semakin banyak alternatif kegiatan yang menarik, semakin mudah anak mengatur kebiasaan digitalnya secara mandiri.
Selain itu, literasi digital perlu diajarkan sejak dini, bukan hanya terkait kemampuan teknis menggunakan perangkat, tetapi juga pemahaman etika dan keamanan online. Anak perlu dibimbing untuk tidak membagikan data pribadi, menggunakan kata sandi yang kuat, serta bersikap sopan di media sosial agar lebih siap menghadapi tantangan teknologi secara bertanggung jawab.







