Beranda / Indonesia / Tragedi YBS Cermin Krisis Pendidikan Dasar, Rocky Gerung: Negara Gagal Lindungi Anak Miskin

Tragedi YBS Cermin Krisis Pendidikan Dasar, Rocky Gerung: Negara Gagal Lindungi Anak Miskin

Surat tulisan tangan YBS berbahasa daerah Ngada yang ditujukan kepada ibunya, ditemukan polisi di lokasi kejadian.

SWARNASUMBAR—Kematian tragis YBS (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi sorotan publik nasional karena mengungkap lemahnya perlindungan negara terhadap anak dari keluarga miskin. Bocah tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena orang tua tidak mampu membelikan buku dan pena sebagai kebutuhan dasar sekolah.

Peristiwa yang terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kamis (29/1/2026), itu memantik kritik keras dari pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung. Ia menyebut tragedi tersebut sebagai kegagalan struktural negara dalam memastikan hak dasar pendidikan dan perlindungan sosial bagi anak.

“Anak umur 10 tahun bisa sampai pada keputusan ekstrem seperti itu. Ini bukan sekadar tragedi keluarga, ini tragedi republik,” ujar Rocky Gerung melalui unggahan di akun Instagram Prophetical Rocky Gerung.

Pendidikan Dasar yang Tak Benar-Benar Gratis

Rocky menilai kematian YBS menyingkap ironi besar dalam sistem pendidikan dasar yang selama ini diklaim gratis dan inklusif. Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa buku dan alat tulis masih menjadi beban berat bagi keluarga miskin di wilayah tertinggal.

“Harga buku itu berapa? Sepuluh ribu. Sepuluh ribu itu berapa per mil dari triliunan rupiah yang bisa digelontorkan negara untuk kepentingan global?” kata Rocky.

Ia menegaskan, ketika seorang anak merasa dirinya menjadi beban ekonomi keluarga hanya karena kebutuhan sekolah paling mendasar, maka negara telah gagal menjalankan fungsi perlindungan sosialnya.

Rasionalitas Anak di Bawah Tekanan Kemiskinan

Rocky juga menyoroti dimensi psikologis dan sosial dari tindakan YBS yang dinilainya lahir dari tekanan kemiskinan struktural. Ia menyebut, keputusan tersebut menunjukkan beban rasional yang tidak seharusnya dipikul oleh anak seusia itu.

“Dia memilih pergi supaya ibunya bisa hidup, supaya adik-adiknya bisa hidup. Itu keputusan yang secara rasional sangat dewasa, walaupun secara psikologis sangat menyedihkan,” ungkapnya.

Menurut Rocky, kemiskinan telah merampas masa kanak-kanak dan memaksa anak-anak memahami situasi ekonomi keluarga lebih jauh dibanding usia mereka.

Alarm bagi Negara dan Pemerintah Daerah

Rocky menilai tragedi YBS harus menjadi alarm serius bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengevaluasi kebijakan pendidikan dasar, terutama di daerah tertinggal seperti Kabupaten Ngada.

“Kalau anak 10 tahun saja bisa membaca situasi republik dan menyimpulkan ada yang tidak beres, lalu kita yang dewasa mau menyangkal apa?” tegasnya.

YBS ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah Ngada yang ditujukan kepada sang ibu, berisi permintaan agar tidak bersedih dan merelakan kepergiannya. Bagi Rocky Gerung, surat tersebut merupakan kritik sosial paling jujur terhadap kondisi republik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *